Sejarah Gampong
-
Beranda
-
Sejarah Gampong
Sejarah & Legenda Gampong
Gampong (Desa) Bireuen Meunasah Tgk Digadong ini telah ada semenjak zaman kerajaan Aceh masih jaya – jayanya yang menguasai seluruh pulau sumatera dan sebagian semenanjung Malaya.
Sering diceritakan oleh orang – orang tua tentang kunjungan kerja para sulthan Aceh ke berbagai pelosok dalam Kerajaan Aceh Darussalam waktu itu, suatu ketika sewaktu Sulthan Iskandar Muda Perkasa Alam yang sering disebut oleh rakyat dengan sebutan Poteumeureuhom Meukuta Alam mengadakan kunjungan kerja sampai desa kira-kira dikemukiman Bireuen sekarang. Sulthan telah disambut serta dielu-elukan dengan meriah oleh puluhan ribu rakyat yang telah menantikannya sejak pagi hari dalam barisan yang panjang dan saat kedatangan Sulthan terjadi kekacauan karena rakyat ingin melihat langsung dari dekat. Ini sangat berbahaya bagi keselamatan sulthan dan rakyat sendiri, maka pasukan berkuda membuka jalan dengan suara lantang nyaring “Bi-Reuweung –Bi-Reuweung” berkali-kali karena panjang barisan rakyat yang harus dilewati Sulthan. Maka kata-kata Bi-Reuweung ini sangat ember meski sulthan telah meninggalkan mereka. Pada akhirnya Kota Bireuen ini yang pada mulanya bernama “COT HAGU” menjadi Kota Bireuen sampai sekarang. Sejak zaman penjajahan Belanda Pemerintahan dipimpin oleh Ulee Balang Ben dan Gampong-gampong dibawahi oleh Peutuha-peutuha yang ditunjuk langsung oleh Ulee Balang Ben. Sezaman dengan zaman ini kemukiman Bireuen tediri dari 5 (lima) buah Gampong yang dipimpin oleh seorang Mukim yang terdiri dari Gampong-gampong :
Bireuen Meunasah Tgk Digadong
Bireuen Meunasah Dayah
Bireuen Meunasah Capa
Bireuen Meunasah Blang
Bireuen Meunasah Reuleut
Bandar Bireuen
Keadaan ini dipertahankan sampai dengan permulaan Pemerintah Republik Indonesia dari Tahun 1945 s/d Tahun 1949. Dari Tahun 1950 s/d 1965 ke lima buah Desa ini dimaksukan dalam Kemukiman Geudong. Karena Kemukiman Geudong ini sangat luas meliputi 20 Desa, maka dirasakan tidak praktis bagi Pemerintahan Kepala Mukim. Pada tahun 1965 Mukim Geudong dipecah menjadi 2 Kemukiman. Kemukiman Geudong sendiri masih tetap berdiri sebagai biasa hanya 6 (Enam) buah Desa yang dikeluarkan dari kemukiman Geudong yaitu :
Bireuen Meunasah Tgk Digadong
Bireuen Meunasah Dayah
Bireuen Meunasah Capa
Bireuen Meunasah Blang
Bireuen Meunasah Reuleut
Ditambah dengan 1 (satu) buah desa yang diambil dari Kelurahan BireuenYaitu :
Gampong Bandar Bireuen
Keenam Desa tersebut dibawah Kemukiman Bireuen sampai dengan sekarang.Mengenai nama Tgk Digadong, siapakah beliau, dari mana asal usulnya tidak ada keterangan yang jelas Cuma yang diketahui beliau adalah seorang Ulama yang mengajar Ilmu Agama Islam.